Warga Palopo Mengeluh: Rumah Rusak, Banjir Berulang, Dana Dampak PETI Bulangita-Teratai Dipertanyakan

0 14

HarianMetro.co, POHUWATO – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Bulangita–Teratai, Kabupaten Pohuwato, kembali dikeluhkan warga. Masyarakat di wilayah Palopo mengaku merasakan dampak aktivitas pertambangan tersebut, terutama saat hujan turun.

Air bercampur material berlumpur disebut masuk ke area permukiman warga. Kondisi itu tak hanya membuat lingkungan menjadi becek dan kotor, tetapi juga disebut berdampak pada rumah warga yang mengalami kerusakan.

Seorang perwakilan masyarakat berinisial SS mengungkapkan, kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama. Warga, kata dia, terpaksa mengeluarkan biaya sendiri untuk memperbaiki rumah yang terdampak banjir dan material lumpur.

Iklan

“Sudah terlalu lama kami bersabar. Untuk memperbaiki rumah saja, kami sudah mengeluarkan puluhan juta rupiah karena setiap kali banjir dan becek masuk ke rumah, kami harus memperbaikinya lagi,” ujar SS.

Menurutnya, persoalan tersebut membuat warga hidup dalam kecemasan, terutama saat hujan turun pada malam hari.

Usman Dunda

“Kalau malam mau tidur kami was-was. Jangan sampai sementara tidur tiba-tiba air masuk rumah. Kami punya anak kecil, ada barang-barang berharga yang harus dijaga. Jadi kami tidak bisa tidur dengan tenang,” ungkapnya.

SS menuturkan, sebelumnya pernah ada pembicaraan atau janji dari pihak-pihak yang melakukan aktivitas pertambangan untuk memperhatikan kondisi masyarakat yang berada di sekitar maupun di wilayah bawah aktivitas pertambangan.

Ia mengaku, ketika aktivitas pertambangan masih berlangsung dan hasil tambang belum diperoleh, masyarakat masih mendapatkan perhatian. Namun, setelah aktivitas berjalan dan hasil mulai dinikmati, perhatian terhadap warga yang mengaku terdampak justru dinilai semakin berkurang.

“Dulu mereka pernah berjanji akan segera memikirkan masalah dampak ini. Katanya kalau pekerjaan mereka di atas sudah bagus dan sudah mendapatkan hasil, kami yang di bawah akan diperhatikan. Tapi sekarang, setelah mereka senang dan mendapatkan hasil, kami yang di bawah justru seperti tidak lagi dipikirkan,” katanya.

Kekecewaan warga semakin bertambah lantaran upaya meminta bantuan ketika banjir terjadi disebut tidak mendapat respons.

“Satu-satu kami hubungi untuk minta tolong menangani banjir, tetapi tidak ada satu pun yang merespons,” tegas SS.

Selain persoalan dampak banjir dan kerusakan rumah, SS juga mempertanyakan informasi mengenai adanya pengumpulan dana yang disebut-sebut diperuntukkan bagi masyarakat terdampak aktivitas PETI.

Ia mengaku mendengar adanya dana yang dikumpulkan dengan tujuan membantu masyarakat yang terdampak. Namun, dirinya mempertanyakan siapa yang mengelola dana tersebut dan sejauh mana penyalurannya kepada warga yang benar-benar merasakan dampak langsung.

“Yang saya dengar sekarang, yang mengumpulkan dana untuk masyarakat yang kena dampak justru orang yang tidak pernah kena dampak. Terus uang yang dikumpulkan itu ke mana? Kami yang benar-benar kena dampak tidak pernah tersentuh dengan dana tersebut,” ujarnya.

Menurut SS, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait. Ia meminta agar kondisi masyarakat di wilayah Palopo yang mengaku terdampak aktivitas PETI Bulangita–Teratai dapat ditinjau secara langsung.

Warga juga berharap adanya kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan dan kerugian yang mereka alami. Jika benar terdapat dana yang dikumpulkan untuk masyarakat terdampak, warga meminta agar mekanisme pengelolaan dan penyalurannya dilakukan secara transparan.

“Jangan hanya mereka yang di atas menikmati hasil. Kami yang di bawah juga manusia. Kami punya rumah, punya anak dan punya kehidupan yang harus dijaga. Kalau memang ada dana untuk masyarakat terdampak, transparansi ke mana dana itu dan siapa yang menerimanya,” pungkas SS.

Masyarakat kini menanti langkah konkret pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti keluhan tersebut serta memastikan persoalan dampak lingkungan dan aktivitas PETI di wilayah Bulangita–Teratai tidak terus menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari pihak yang disebut dalam pernyataan warga terkait dugaan pengumpulan dan pengelolaan dana maupun tudingan lainnya. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak-pihak terkait sebagai bagian dari prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.(*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.