HarianMetro.co, POHUWATO — Ketika ruang-ruang dialog tak lagi melahirkan kepastian, jalanan menjadi mimbar terakhir rakyat. Rencana aksi Aliansi BARA API pada 1 Mei mendatang bukan sekadar demonstrasi biasa, tetapi alarm keras atas kegelisahan rakyat penambang yang merasa hak-haknya perlahan dilucuti.
Bertahun-tahun isu Izin Pertambangan Rakyat (IPR) dibicarakan. Rapat digelar, diskusi dipertontonkan, janji diucapkan berulang. Namun pertanyaan dasarnya tetap sama: di mana keberpihakan negara terhadap penambang rakyat?
Jika pemerintah daerah dan DPRD serius memperjuangkan nasib penambang lokal, mengapa sampai hari ini kepastian hukum itu seperti fatamorgana? Mengapa rakyat yang mencari nafkah justru terus berada dalam ketidakpastian, sementara kekuatan modal besar terlihat kian kokoh menguasai ruang tambang?
Iklan
Di titik ini publik patut bertanya, apakah negara sedang hadir untuk rakyat, atau justru perlahan menjauh dari mereka?
Masuknya perusahaan besar semestinya tidak mengubur ruang hidup penambang rakyat. Namun yang terjadi justru memunculkan kesan bahwa rakyat kecil terus didorong ke sudut. Penertiban demi penertiban dilakukan, tetapi solusi tak kunjung datang. Yang tumbuh adalah rasa curiga—bahwa aturan sedang dipakai bukan untuk menata, melainkan menyingkirkan.

Ironisnya, ketika negara lamban menjawab, organisasi masyarakat dan kelompok pemuda justru harus turun ke jalan untuk mengingatkan pemerintah tentang mandat konstitusionalnya: melindungi rakyat.
Ini bukan sekadar isu tambang. Ini soal keadilan sosial.
Sebab ketika rakyat dipaksa berjuang untuk hak yang seharusnya dijamin negara, sesungguhnya ada yang sedang bermasalah dalam tata kelola kekuasaan.
Aksi 1 Mei menjadi penting bukan hanya sebagai protes, tetapi ujian moral bagi pemerintah daerah, DPRD, dan aparat penegak hukum: berdiri bersama rakyat, atau membiarkan ketidakadilan terus mengendap.
Jika aspirasi penambang terus diabaikan, maka yang tumbuh bukan hanya kemarahan sosial, tetapi krisis kepercayaan publik.
Rakyat penambang tidak sedang meminta belas kasih. Mereka menuntut hak.
Dan sejarah selalu mencatat, ketika hak terus ditekan, perlawanan akan menemukan jalannya sendiri. //HM