YR TIM Kolaborasi Siap Turun Bersama Kecamatan dan Desa Hadapi Krisis Air Bersih

0 14

HarianMetro.co, POHUWATO – Ancaman kekeringan akibat musim kemarau yang melanda Gorontalo semakin menjadi perhatian. Kondisi kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung cukup panjang dan berpotensi berlanjut hingga awal tahun 2027, sehingga kebutuhan air bersih masyarakat menjadi persoalan yang harus diantisipasi bersama.

Di tengah ancaman tersebut, Yayasan Rakyat Tunas Indonesia Maju (YR TIM) Kolaborasi menyatakan kesiapan untuk terus mendukung upaya penanganan krisis air bersih dengan menggandeng pemerintah kecamatan dan desa di wilayah terdampak.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Gorontalo, sebagian besar wilayah Gorontalo mulai memasuki musim kemarau sejak Juni hingga Juli 2026, dengan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026.

Iklan

Kondisi kemarau tahun ini juga menunjukkan periode yang cukup panjang. Hasil analisis Stasiun Klimatologi mencatat panjang musim kemarau di sejumlah wilayah Gorontalo bervariasi antara 11 hingga 25 dasarian.

Sejumlah wilayah bahkan mengalami periode hari tanpa hujan yang cukup panjang. Kabupaten Pohuwato dan Boalemo termasuk daerah yang mengalami periode tanpa hujan berkisar antara 31 hingga 60 hari.

Usman Dunda

Kondisi tersebut meningkatkan potensi kekeringan meteorologis dan berdampak terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Menyikapi kondisi itu, YR TIM Kolaborasi bersama AHS Centre, FRM Foundation, IMM, HMI, PMII, Karang Taruna, KNPI, serta sejumlah wartawan terus melakukan aksi kemanusiaan dengan mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

Koordinator Lapangan YR TIM Kolaborasi, Zufrin Harun, menegaskan, aksi pendistribusian air bersih akan terus dilakukan selama masyarakat masih membutuhkan bantuan.

“Kami pastikan distribusi air bersih ini akan terus dilakukan selama musim kemarau berlangsung. Ini merupakan bagian dari upaya YR TIM Kolaborasi membantu pemerintah dalam meminimalisir dampak krisis air bersih di masyarakat,” ungkap Zufrin, Senin (07/09/2026).

Menurutnya, ancaman kemarau panjang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen. Persoalan ketersediaan air bersih tidak hanya dapat dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, komunitas, relawan dan berbagai pihak lainnya.

Karena itu, YR TIM Kolaborasi membuka ruang kerja sama dengan pemerintah kecamatan hingga pemerintah desa untuk memperluas jangkauan distribusi air bersih.

Zufrin mengatakan, YR TIM Kolaborasi siap mendukung wilayah yang ingin melakukan pendistribusian air bersih kepada masyarakat, khususnya apabila pemerintah kecamatan atau desa memiliki armada yang dapat digunakan untuk mengangkut air.

“Kami mengajak semua pihak, termasuk pemerintah kecamatan dan desa, untuk bersama-sama mengambil bagian. Jika ada armada yang tersedia, YR TIM Kolaborasi siap menyiapkan tandon air yang nantinya dapat digunakan untuk mendukung pendistribusian air bersih di wilayah masing-masing,” jelasnya.

Ia berharap kolaborasi tersebut dapat memperluas jangkauan bantuan, sehingga masyarakat yang terdampak kekeringan tetap dapat memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Menurut Zufrin, sinergi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, komunitas, relawan, media dan masyarakat menjadi langkah penting dalam menghadapi ancaman kemarau yang berpotensi berlangsung lebih panjang.

“Semakin banyak pihak yang terlibat, maka semakin luas pula masyarakat yang bisa kita jangkau. Harapan kami, tidak ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih di tengah kondisi kemarau ini,” pungkasnya.//Mldi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.